BANGGAI LAUT - Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kabupaten Banggai Laut menggelar Kajian Dampak Baca, Diskusi, dan Aksi dengan tema “Literasi di Ujung Jaringan”. Kegiatan tersebut mendorong pelajar membangun nalar kritis dalam menghadapi arus informasi di ruang digital.
Kegiatan berlangsung selama enam kali pertemuan pada 10 hingga 19 September 2026. Pelaksanaannya memadukan pembelajaran dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) agar proses belajar tetap berjalan secara interaktif.
Perwakilan Relima Perpusnas RI Lokus Banggai Laut, Alma Hidayah, mengatakan kegiatan tersebut menyasar generasi muda, khususnya pelajar yang tergabung dalam Komunitas Literasi SMA Negeri 1 Banggai. Sebanyak 15 siswa mengikuti kegiatan dengan didampingi guru pembimbing literasi sekolah.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak pelajar tidak hanya membaca, tetapi juga mampu memahami, menyaring, dan mengolah informasi yang mereka temui, terutama di ruang digital,” kata Alma.
Menurutnya, ruang digital dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan kegiatan literasi. Karena itu, kegiatan dirancang tidak sepenuhnya bergantung pada pertemuan tatap muka.
“Ruang digital kami manfaatkan sebagai jembatan untuk tetap belajar, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan. Harapannya, kebiasaan literasi ini bisa terus berjalan meskipun kegiatan sudah selesai,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 10 September dengan materi Mengenal Literasi di Era Digital. Sehari setelahnya, peserta mendapat materi Cerdas Memilih Informasi untuk meningkatkan kemampuan dalam memilah informasi.
Pada 12 September, peserta membahas Literasi Digital dan Kesehatan Mental. Materi kemudian dilanjutkan dengan Literasi untuk Berkarya pada 17 September sebagai bagian dari pengembangan kreativitas peserta.
Selanjutnya, pada 18 September peserta memproduksi konten kampanye. Rangkaian kegiatan ditutup pada 19 September melalui Kampanye dan Refleksi Literasi untuk melihat kembali pengalaman dan rencana aksi peserta.
Alma mengatakan peserta juga didorong menghasilkan aksi setelah mendapatkan materi. Dengan begitu, kegiatan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca dan berdiskusi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap peserta bisa membawa pengetahuan yang didapat ke lingkungan sekolah dan pertemanan. Mereka bisa menjadi contoh bagi teman-temannya dalam membaca, berdiskusi, serta lebih bijak ketika menerima dan membagikan informasi,” jelasnya.
Salah satu peserta, Rifa'at Al Idrus, berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan sekolah dan media sosial.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi pedoman bagi seluruh siswa-siswi di sekolah dan di media sosial agar lebih meluas,” tulisnya dalam kolom diskusi.
Peserta lainnya, Rafi, bertekad menjadi bagian dari gerakan literasi di kalangan remaja. Ia ingin mengajak teman-temannya membaca, berpikir kritis, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat.
Sementara itu, Lastri Rasman menilai kemampuan menyaring informasi menjadi hal penting di tengah derasnya arus informasi digital. Ia berkomitmen menerapkan kebiasaan tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
“Saya ingin melanjutkannya dengan membiasakan diri menyaring informasi sebelum membagikannya lalu mengajak teman-teman untuk melakukan hal yang sama,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Adinda yang berkomitmen membagikan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan kepada teman-temannya. Ia berharap semakin banyak pelajar yang ikut menerapkan kebiasaan literasi di lingkungan sekolah.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi virtual yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Para peserta merefleksikan pengalaman selama mengikuti kegiatan sekaligus menyampaikan rencana aksi setelah program berakhir.
Selain mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru, peserta memperoleh E-Sertifikat Perpusnas RI. Relima juga memberikan merchandise kepada tiga peserta aktif dan satu kelompok terbaik sebagai bentuk apresiasi.
Alma berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari munculnya lebih banyak penggerak literasi di lingkungan sekolah. Menurutnya, peserta dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada teman-teman mereka.
“Yang kami harapkan bukan sekadar selesai mengikuti kegiatan, tetapi ada kebiasaan dan aksi yang terus dilakukan. Dari 15 peserta ini, mudah-mudahan muncul agen-agen literasi yang bisa mengajak lebih banyak teman untuk membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis,” pungkasnya. (*)
Posting Komentar untuk "Relima Banggai Laut Sukses Gelar Kajian Dampak Literasi, Bangun Nalar Kritis Pelajar Lewat Ruang Digital"