Menyoal Slogan ‘Banggai Laut Mola’: Antara Gimmick Seremonial dan Kebutuhan Nyata City Branding


Apa yang sebenarnya terlintas di benak publik ketika mendengar pekik “Banggai Mola Laut”?

Secara harfiah, kata “mola” dalam bahasa lokal kerap dimaknai sebagai “bisa”, sebuah seruan optimisme yang menunjukkan keyakinan bahwa Banggai mampu melakukan sesuatu.

Namun, di balik riuh tepuk tangan dan slogan yang kerap dilantangkan dalam berbagai forum, muncul pertanyaan sederhana: Banggai bisa dalam hal apa? Hendak dibawa ke mana daerah ini melalui slogan tersebut?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu gagasan dalam esai “Banggai Mola dan City Branding” karya Fikri Rahmat Utama, yang dimuat dalam buku “Menggugat Banggai Laut Mola”.

Esai tersebut melihat bahwa slogan daerah semestinya tidak berhenti sebagai jargon seremonial. Sebuah identitas daerah membutuhkan arah, karakter dan keterkaitan dengan kebijakan pembangunan.

City Branding Bukan Sekadar Slogan

Dalam konsep city branding, sebuah daerah tidak cukup hanya memiliki logo atau tagline. Identitas wilayah dibangun melalui pengalaman masyarakat, karakter budaya, potensi ekonomi, kualitas pelayanan, lingkungan hingga bagaimana daerah tersebut dikenal oleh orang luar.

Karena itu, slogan akan lebih kuat apabila memiliki hubungan dengan kenyataan. Yogyakarta, misalnya, dikenal sebagai kota pendidikan karena identitas tersebut ditopang oleh ekosistem pendidikan yang nyata.

Dari perspektif itu, “Banggai Mola” perlu ditempatkan dalam pertanyaan yang lebih besar. Jika hendak menjadi identitas Kabupaten Banggai Laut, apa sebenarnya positioning yang ingin dibangun?

Apakah Banggai Laut ingin dikenal sebagai destinasi wisata bahari, pusat kebudayaan Banggai, daerah ekonomi kelautan, atau wilayah kepulauan yang mengembangkan pembangunan berbasis kearifan lokal?

Pertanyaan tersebut penting karena terlalu banyak identitas justru dapat membuat sebuah daerah kehilangan fokus.

Banggai Mola dan Identitas Pariwisata

Banggai Laut memiliki modal geografis yang kuat sebagai wilayah kepulauan. Laut, pulau-pulau kecil, pesisir dan kehidupan masyarakat bahari merupakan bagian dari karakter daerah.

Potensi tersebut dapat menjadi fondasi bagi positioning pariwisata bahari. Namun, branding pariwisata tidak cukup dilakukan melalui promosi destinasi.

Jika Banggai Laut ingin dikenal sebagai daerah wisata bahari, maka identitas tersebut harus terlihat dalam kebijakan. Infrastruktur dermaga, akses transportasi, sanitasi, pengelolaan sampah, kapasitas pelaku wisata dan perlindungan ekosistem laut harus menjadi bagian dari agenda pembangunan.

Dengan demikian, branding bukan sekadar cara mempromosikan daerah, tetapi juga menjadi kompas bagi pemerintah dalam menentukan prioritas.

Ketika slogan tidak memiliki hubungan dengan kebijakan, ia mudah berubah menjadi sekadar hiasan dalam berbagai kegiatan.

Mengangkat Kembali Sejarah Kerajaan Banggai

Selain laut, Banggai Laut memiliki modal budaya yang tidak kalah penting: sejarah dan warisan Kerajaan Banggai.

Sejarah kerajaan, adat dan kebudayaan Banggai merupakan aset yang memiliki karakter lebih spesifik dibandingkan sekadar menjual keindahan alam.

Pariwisata bahari dapat ditemukan di banyak daerah kepulauan. Tetapi sejarah Kerajaan Banggai dan kebudayaan masyarakat Banggai memiliki cerita yang lebih khas.

Karena itu, warisan sejarah dan adat dapat menjadi bagian dari identitas daerah. 

Gagasan seperti “Banggai Kota Seribu Adat” atau penguatan kembali nilai-nilai Benggawi dapat menjadi bahan untuk merumuskan positioning budaya. Bukan berarti slogan tersebut harus langsung digunakan, tetapi substansi sejarah dan budaya tersebut layak ditempatkan sebagai modal dalam membangun identitas daerah.

Dari Jargon Menjadi Identitas

Persoalan utama dalam city branding bukan menciptakan slogan. Slogan dapat dibuat dalam waktu singkat.

Yang jauh lebih sulit adalah membuat seluruh kebijakan daerah bergerak menuju identitas yang sama.

Jika Banggai Laut ingin dikenal sebagai daerah bahari, maka pembangunan infrastruktur, ekonomi, lingkungan, pendidikan dan pariwisata harus memiliki keterkaitan dengan visi tersebut.

Jika identitas budaya ingin dikedepankan, maka diperlukan pengarsipan sejarah, perlindungan situs budaya, pendidikan kebudayaan hingga pengembangan ekonomi kreatif.

Di sinilah perbedaan antara slogan dan branding.

Slogan dapat diucapkan.

Branding harus dibuktikan.

Maka, pertanyaan terhadap “Banggai Mola” pada akhirnya sederhana: Banggai bisa apa?

Bisa membangun apa?

Bisa menjadi apa?

Dan siapa yang akan merasakan manfaatnya?

Pertanyaan tersebut bukan untuk menolak optimisme yang terkandung dalam “Banggai Mola”. Justru sebaliknya, optimisme membutuhkan arah agar tidak berhenti sebagai retorika.

Sebuah daerah membutuhkan mimpi. Tetapi mimpi membutuhkan strategi.

Sebuah daerah membutuhkan slogan. Tetapi slogan membutuhkan identitas.

Dan identitas membutuhkan bukti.

Jika “Banggai Mola” ingin menjadi identitas Kabupaten Banggai Laut, tantangannya bukan sekadar membuat masyarakat menghafalnya. Tantangannya adalah membuat publik mengenali Banggai Laut melalui sesuatu yang nyata—lautnya, sejarahnya, budayanya, atau kombinasi ketiganya. 

Gagasan mengenai “Banggai Mola dan City Branding” tersebut menjadi salah satu bahasan dalam buku “Menggugat Banggai Laut Mola” karya Fikri Rahmat Utama.

Buku ini memuat catatan kritis mengenai identitas, budaya, pembangunan dan masa depan Banggai Laut, dengan pendekatan reflektif terhadap berbagai persoalan daerah kepulauan.

Informasi dan pemesanan buku dapat diperoleh melalui WhatsApp 0853-4003-0372. (*)

Posting Komentar untuk "Menyoal Slogan ‘Banggai Laut Mola’: Antara Gimmick Seremonial dan Kebutuhan Nyata City Branding"