Hutan Banggai Bersaudara Hilang Ribuan Hektare dalam Setahun, Sawit hingga Tambang Ancam Ekosistem Karst dan Pesisir

BANGGAI BERDIKARI – Tutupan hutan di kawasan Banggai Bersaudara menghadapi tekanan sepanjang 2025. Analisis Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) mencatat deforestasi mencapai 1.292,63 hektare yang tersebar di Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.

Dari tiga wilayah tersebut, Kabupaten Banggai mencatat angka terbesar dengan 1.091,29 hektare. Sementara Banggai Kepulauan mencapai 192,78 hektare dan Banggai Laut 8,56 hektare.

Angka tersebut menggambarkan adanya tekanan terhadap tutupan hutan di wilayah yang memiliki karakter ekologis berbeda, mulai dari daratan utama Banggai hingga pulau-pulau kecil di Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.

Namun, angka deforestasi tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Data KOMIU menggunakan analisis tersendiri, sedangkan Global Forest Watch (GFW) menggunakan indikator seperti kehilangan hutan alam dan kehilangan tutupan pohon. Karena perbedaan metodologi, angka dari kedua sumber tidak dapat dijumlahkan atau dibandingkan secara langsung.

Banggai Catat Angka Terbesar

Kabupaten Banggai menjadi wilayah dengan angka deforestasi terbesar dalam analisis KOMIU, yakni 1.091,29 hektare pada 2025.

Tekanan terhadap kawasan hutan Banggai berlangsung di tengah aktivitas ekonomi dan pemanfaatan lahan yang terus berkembang. KOMIU dalam berbagai kajiannya menyoroti sejumlah aktivitas seperti perkebunan dan pertambangan sebagai bagian dari tekanan terhadap hutan di Sulawesi Tengah.

Karena itu, angka deforestasi tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan satu jenis kegiatan saja. Untuk mengetahui penyebab pada tingkat tapak, diperlukan pencocokan antara lokasi kehilangan tutupan hutan dengan izin perkebunan, pertambangan, konsesi kehutanan, kawasan permukiman serta penggunaan lahan lainnya.

Pendekatan tersebut penting agar persoalan deforestasi tidak berhenti pada angka kehilangan tutupan hutan, tetapi dapat diketahui lokasi dan aktivitas yang berada di balik perubahan tersebut.

Banggai Kepulauan: Hutan, Karst dan Sumber Air

Di Banggai Kepulauan, analisis KOMIU mencatat deforestasi sebesar 192,78 hektare pada 2025.

Data Global Forest Watch menunjukkan Banggai Kepulauan memiliki sekitar 72 ribu hektare hutan alam pada 2020 atau sekitar 24 persen dari luas wilayahnya. Pada 2025, GFW mencatat kehilangan hutan alam sekitar 410 hektare.

Dalam periode 2001 hingga 2025, GFW juga mencatat kehilangan tutupan pohon sekitar 55 ribu hektare. Namun angka tersebut merupakan tree cover loss, bukan seluruhnya kehilangan hutan primer. Untuk hutan primer lembap atau humid primary forest, GFW mencatat kehilangan sekitar 14 ribu hektare dalam periode 2002–2025.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya memahami definisi data sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi hutan Banggai Kepulauan.

Persoalan lingkungan di wilayah ini juga tidak hanya berkaitan dengan tutupan hutan. Kajian KOMIU mengenai kawasan No-Go Mining Zone di jantung Pulau Peling menyoroti keterkaitan antara kawasan karst, tutupan lahan, sumber air, kualitas lingkungan, terumbu karang dan keanekaragaman hayati. Kajian tersebut secara khusus membahas proyeksi dampak rencana pertambangan batu gamping serta keberadaan WIUP dan IUP di kawasan yang dikaji.

Karakter karst membuat perubahan bentang alam menjadi isu yang tidak semata berkaitan dengan hilangnya vegetasi. Kawasan karst memiliki fungsi hidrologis sehingga perubahan bentang alam dapat berkaitan dengan sistem air dan lingkungan di sekitarnya.

Banggai Laut: Kecil Secara Angka, Berada di Wilayah Kepulauan

Kabupaten Banggai Laut mencatat angka deforestasi paling kecil dalam analisis KOMIU, yakni 8,56 hektare pada 2025.

Meski secara luas jauh lebih kecil dibanding Banggai dan Banggai Kepulauan, kondisi geografis Banggai Laut perlu dilihat dalam konteks wilayah kepulauan.

Perubahan tutupan lahan di pulau-pulau kecil dapat memiliki konsekuensi yang berbeda dibanding wilayah daratan yang lebih luas. Karena itu, luas kehilangan hutan tidak cukup menjadi satu-satunya indikator untuk mengukur tekanan ekologis.

Kondisi daratan dan pesisir juga saling berkaitan. Perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu, misalnya, dapat menjadi faktor yang perlu dipantau dalam kaitannya dengan sedimentasi dan kondisi ekosistem pesisir. Namun, hubungan sebab-akibat tersebut membutuhkan data lapangan agar tidak disimpulkan hanya berdasarkan angka deforestasi.

Di wilayah Banggai, persoalan hutan juga tidak dapat dipisahkan dari kekayaan ekosistem laut. Salah satu spesies yang menjadi perhatian adalah Banggai cardinalfish atau ikan capungan Banggai (Pterapogon kauderni).

NOAA Fisheries mencatat ikan tersebut merupakan spesies endemik Kepulauan Banggai dan hidup di perairan dangkal yang berkaitan dengan terumbu karang serta padang lamun. Spesies tersebut juga telah berstatus threatened berdasarkan Endangered Species Act Amerika Serikat sejak 2016, dengan ancaman utama antara lain perdagangan ikan hias dan kerusakan habitat.

Mengapa Data Deforestasi Bisa Berbeda?

Perbedaan angka menjadi bagian penting dalam membaca kondisi hutan Banggai Bersaudara.

KOMIU mencatat total deforestasi 1.292,63 hektare pada 2025. Sementara GFW memiliki sejumlah indikator berbeda, termasuk natural forest loss, primary forest loss dan tree cover loss.

Sebagai contoh, GFW mencatat Banggai Kepulauan kehilangan sekitar 410 hektare hutan alam pada 2025. Dalam periode 2001–2025, angka tree cover loss mencapai sekitar 55 ribu hektare. GFW juga mencatat bahwa tidak seluruh kehilangan tutupan pohon merupakan deforestasi permanen karena sebagian dapat berkaitan dengan gangguan sementara seperti pembukaan lahan, perladangan berpindah, kebakaran atau aktivitas lainnya.

Karena itu, angka-angka tersebut sebaiknya digunakan untuk membaca pola perubahan tutupan lahan, bukan sekadar mencari satu angka terbesar.

Yang Perlu Dilihat Setelah Angka Deforestasi

Persoalan berikutnya bukan hanya berapa hektare hutan yang hilang, tetapi di mana kehilangan tersebut terjadi dan apa penyebabnya.

Data kehilangan tutupan hutan perlu dipadankan dengan peta perizinan pertambangan dan perkebunan, kawasan hutan, wilayah adat, sumber air, kawasan karst, permukiman serta ekosistem pesisir.

Dengan cara tersebut, pemerintah daerah, masyarakat dan publik dapat mengetahui apakah perubahan tutupan lahan terjadi di kawasan yang memang diperuntukkan bagi kegiatan tertentu atau justru berada di kawasan yang memiliki fungsi perlindungan.

Untuk Banggai Bersaudara, pemantauan semacam ini menjadi penting karena ketiga daerah memiliki karakter geografis berbeda.

Banggai memiliki wilayah daratan yang luas dan aktivitas ekonomi yang beragam. Banggai Kepulauan memiliki bentang pulau, kawasan karst dan sumber air yang menjadi perhatian dalam kajian lingkungan. Sementara Banggai Laut memiliki karakter kepulauan dengan keterkaitan erat antara ekosistem darat dan laut.

Dengan demikian, angka 1.292,63 hektare bukanlah akhir dari persoalan. Angka tersebut justru menjadi titik awal untuk melihat lebih jauh lokasi kehilangan hutan, perubahan fungsi lahan dan dampaknya terhadap masyarakat serta ekosistem Banggai Bersaudara.

Bagi kawasan yang sedang berkembang, tantangannya bukan semata memilih antara pembangunan atau lingkungan. Yang lebih penting adalah memastikan setiap perubahan pemanfaatan ruang dapat diketahui lokasinya, dasar perizinannya, dampaknya dan konsekuensinya terhadap kehidupan masyarakat dalam jangka panjang. (*)

Sumber:

1. Yayasan KOMIU – Analisis deforestasi dan kajian No-Go Mining Zone Pulau Peling.
2. Global Forest Watch – Data perubahan hutan Banggai Kepulauan.
3. NOAA Fisheries – Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni).

Posting Komentar untuk "Hutan Banggai Bersaudara Hilang Ribuan Hektare dalam Setahun, Sawit hingga Tambang Ancam Ekosistem Karst dan Pesisir"